Mengapa (harus) Perempuan?

Tepat satu tahun yang lalu saya tengah sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi. Wara-wiri ke berbagai tempat untuk mendapatkan sumber yang relevan. Pembahasan skripsi saya ialah mengenai perempuan, terutama bagaimana perlakuan yang diterima perempuan ketika masa penjajahan kolonial. Mengapa saya memilih judul tersebut? Sebenarnya hal itu terjadi secara tidak disengaja. Dari awal memang saya tertarik pada pembahasan orang-orang yang termarjinalkan, karena saat perkuliahan ada salah satu mata kuliah yang membahas mengenai permasalahan tersebut. Mulai saat itu saya mulai menaruh perhatian lebih pada peran orang-orang yang mungkin dianggap kurang “berpengaruh” dalam sejarah secara langsung, tapi tentu saja sangat berpengaruh dalam sejarah secara tidak langsung. Makanya peran mereka jarang disebut-sebut dalam buku pelajaran sejarah. Misalnya dalam pembahasan Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa dari Patih Gadjah Mada nya, tapi pernah terbayangkan tidak bagaimana peran juru masak atau kehidupan pribadi tukang bersih-bersih di kerajaan Majapahit tersebut? Nah dari situlah saya mulai tertarik dengan hal-hal kecil.

Ketika saya mulai keblinger dengan penetuan judul, saya pun mulai mengalihkan perhatian dengan membaca novel dan mencari novel-novel baru, padahal udah mau seminar judul tuh tapi judulnya masih galau dan belum ajeg. Setelah searching novel, dan bertemulah dengan berbagai novel Indonesia yang menceritakan kisah masa lalu. Diantaranya, Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer), Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), dan Nyai Dasima (S. M. Ardan). Dengan cepat saya mendapatkan novel-novel tersebut dan membacanya. Akhirnya saya mendapatkan pencerahan untuk meramu dan meracik judul skripsi. Selain itu, saya juga membeli, mencari, mendatangi sumber-sumber terkait yang merupakan bukti otentik. Ternyata fenomena novel tersebut pernah terjadi di Indonesia kita ini. Mengenai apakah novel-novel tersebut? hehe..

Selama ini yang kita tau, masa penjajahan kolonial itu, ya tanam paksa, buruh, sewa tanah, VOC, monopoli perdagangan, dan sebagainya. Namun, ada juga peran perempuan Pribumi kita, yaitu menjadi Nyai dari orang-orang Belanda yang datang ke Hindia Belanda. Apakah itu Nyai? Bukan berarti istri sah ya. Nyai itu semacam panggilan bagi perempuan Pribumi yang berperan sebagai istri bagi orang Belanda, namun tidak adanya pernikahan yang sah. Mereka tinggal bersama, melayani kebutuhan orang Belanda, dan bahkan memiliki anak. Nyai pun mendapatkan upah tiap bulannya.

Nyai masa Kolonial Belanda

Nyai masa Kolonial Belanda

Sumber : Baay, R. (2010). Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Jakarta : Komunitas Bambu.

 

Pada masa itu menjadi seorang Nyai merupakan impian. Bagaimana tidak, ditengah kehidupan rakyat Pribumi yang serba kekurangan, dan tanggungan keluarga yang banyak, menjadi Nyai dengan pendapatan yang tetap dan cukup banyak adalah sesuatu yang sangat diharapkan. Pilihannya kalau tidak menjadi Nyai, adalah menjadi buruh perkebunan. Bayaran bagi buruh perkebunan tidak terlalu banyak, bahkan tidak cukup untuk kebutuhan keluarga sehari-hari. Oiya, menjadi Nyai hanya untuk perempuan saja ya, sehingga ketika sebuah keluarga memiliki anak perempuan mereka akan langsung menawarkan pada Tuan Belanda agar anaknya mau di jadikan Nyainya. Terlepas dari anak tersebut mau atau tidak, pokoknya mau gak mau harus mau jadi Nyai. Perintah seorang ayah dalam keluarga atau anggota keluarga laki-laki adalah sesuatu yang tabu untuk di tolak.

Menjadi Nyai tidak sah sebenarnya sangat merugikan, karena tidak sah secara hukum berarti tidak ada hukum yang melindunginya. Banyak Nyai yang diperlakukan tidak selayaknya seorang manusia. Bagaimana tidak, ada beberapa Nyai yang disiksa oleh Tuannya, mereka tidak bisa melaporkannya atau mendapatkan perlindungan, hal ini lah yang menjadi konsekuensi menjadi Nyai. Tuannya memiliki hak untuk memberikan perlakuan apapun pada Nyai nya. Ada juga seorang Nyai yang telah memiliki anak dengan Tuan Belanda nya, malah dipisahkan dan dijauhakn dengan anaknya sendiri. Atau, ada juga yang Nyai dan anaknya di usir begitu saja ketika Tuan Belanda nya sudah bosan dengan Nyai nya dan ingin mengganti posisi Nyai tersebut dengan perempuan Pribumi lain. Bila sedang bernasib baik, ada juga Nyai yang meresmikan hubungannya dengan Tuan Belandanya ke pemerintahan Hindia Belanda dan hidup bahagia bersama.

Bagaimanapun hal itu pernah terjadi di tanah Indonesia ini. Yang di atas itu hanyalah cuplikan kisah Nyai yang ada di Jawa Barat sebagai pembahasan skripsi saya. Bila masih penasaran dan ingin menambah pengetahuannya boleh mencari bukunya dan pergi ke berbagai tempat seperti yang saya lakukan, misalnya mengunjungi Arsip Nasional. Tapi perbanyak dulu kosakata Belanda nya ya, karena sumbernya kebanyakan bahasa Belanda. Tapi banyak juga kok sumber yang sudah berbahasa Indonesia. Semoga terinspirasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s