Mengapa (harus) Perempuan?

Tepat satu tahun yang lalu saya tengah sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi. Wara-wiri ke berbagai tempat untuk mendapatkan sumber yang relevan. Pembahasan skripsi saya ialah mengenai perempuan, terutama bagaimana perlakuan yang diterima perempuan ketika masa penjajahan kolonial. Mengapa saya memilih judul tersebut? Sebenarnya hal itu terjadi secara tidak disengaja. Dari awal memang saya tertarik pada pembahasan orang-orang yang termarjinalkan, karena saat perkuliahan ada salah satu mata kuliah yang membahas mengenai permasalahan tersebut. Mulai saat itu saya mulai menaruh perhatian lebih pada peran orang-orang yang mungkin dianggap kurang “berpengaruh” dalam sejarah secara langsung, tapi tentu saja sangat berpengaruh dalam sejarah secara tidak langsung. Makanya peran mereka jarang disebut-sebut dalam buku pelajaran sejarah. Misalnya dalam pembahasan Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa dari Patih Gadjah Mada nya, tapi pernah terbayangkan tidak bagaimana peran juru masak atau kehidupan pribadi tukang bersih-bersih di kerajaan Majapahit tersebut? Nah dari situlah saya mulai tertarik dengan hal-hal kecil.

Ketika saya mulai keblinger dengan penetuan judul, saya pun mulai mengalihkan perhatian dengan membaca novel dan mencari novel-novel baru, padahal udah mau seminar judul tuh tapi judulnya masih galau dan belum ajeg. Setelah searching novel, dan bertemulah dengan berbagai novel Indonesia yang menceritakan kisah masa lalu. Diantaranya, Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer), Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), dan Nyai Dasima (S. M. Ardan). Dengan cepat saya mendapatkan novel-novel tersebut dan membacanya. Akhirnya saya mendapatkan pencerahan untuk meramu dan meracik judul skripsi. Selain itu, saya juga membeli, mencari, mendatangi sumber-sumber terkait yang merupakan bukti otentik. Ternyata fenomena novel tersebut pernah terjadi di Indonesia kita ini. Mengenai apakah novel-novel tersebut? hehe..

Selama ini yang kita tau, masa penjajahan kolonial itu, ya tanam paksa, buruh, sewa tanah, VOC, monopoli perdagangan, dan sebagainya. Namun, ada juga peran perempuan Pribumi kita, yaitu menjadi Nyai dari orang-orang Belanda yang datang ke Hindia Belanda. Apakah itu Nyai? Bukan berarti istri sah ya. Nyai itu semacam panggilan bagi perempuan Pribumi yang berperan sebagai istri bagi orang Belanda, namun tidak adanya pernikahan yang sah. Mereka tinggal bersama, melayani kebutuhan orang Belanda, dan bahkan memiliki anak. Nyai pun mendapatkan upah tiap bulannya.

Nyai masa Kolonial Belanda

Nyai masa Kolonial Belanda

Sumber : Baay, R. (2010). Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Jakarta : Komunitas Bambu.

 

Pada masa itu menjadi seorang Nyai merupakan impian. Bagaimana tidak, ditengah kehidupan rakyat Pribumi yang serba kekurangan, dan tanggungan keluarga yang banyak, menjadi Nyai dengan pendapatan yang tetap dan cukup banyak adalah sesuatu yang sangat diharapkan. Pilihannya kalau tidak menjadi Nyai, adalah menjadi buruh perkebunan. Bayaran bagi buruh perkebunan tidak terlalu banyak, bahkan tidak cukup untuk kebutuhan keluarga sehari-hari. Oiya, menjadi Nyai hanya untuk perempuan saja ya, sehingga ketika sebuah keluarga memiliki anak perempuan mereka akan langsung menawarkan pada Tuan Belanda agar anaknya mau di jadikan Nyainya. Terlepas dari anak tersebut mau atau tidak, pokoknya mau gak mau harus mau jadi Nyai. Perintah seorang ayah dalam keluarga atau anggota keluarga laki-laki adalah sesuatu yang tabu untuk di tolak.

Menjadi Nyai tidak sah sebenarnya sangat merugikan, karena tidak sah secara hukum berarti tidak ada hukum yang melindunginya. Banyak Nyai yang diperlakukan tidak selayaknya seorang manusia. Bagaimana tidak, ada beberapa Nyai yang disiksa oleh Tuannya, mereka tidak bisa melaporkannya atau mendapatkan perlindungan, hal ini lah yang menjadi konsekuensi menjadi Nyai. Tuannya memiliki hak untuk memberikan perlakuan apapun pada Nyai nya. Ada juga seorang Nyai yang telah memiliki anak dengan Tuan Belanda nya, malah dipisahkan dan dijauhakn dengan anaknya sendiri. Atau, ada juga yang Nyai dan anaknya di usir begitu saja ketika Tuan Belanda nya sudah bosan dengan Nyai nya dan ingin mengganti posisi Nyai tersebut dengan perempuan Pribumi lain. Bila sedang bernasib baik, ada juga Nyai yang meresmikan hubungannya dengan Tuan Belandanya ke pemerintahan Hindia Belanda dan hidup bahagia bersama.

Bagaimanapun hal itu pernah terjadi di tanah Indonesia ini. Yang di atas itu hanyalah cuplikan kisah Nyai yang ada di Jawa Barat sebagai pembahasan skripsi saya. Bila masih penasaran dan ingin menambah pengetahuannya boleh mencari bukunya dan pergi ke berbagai tempat seperti yang saya lakukan, misalnya mengunjungi Arsip Nasional. Tapi perbanyak dulu kosakata Belanda nya ya, karena sumbernya kebanyakan bahasa Belanda. Tapi banyak juga kok sumber yang sudah berbahasa Indonesia. Semoga terinspirasi.

Fenomena Kehidupan

Hati siapa yang tidak bergetar ketika mendengarnya, mungkin semua yang mendengar akan menginginkannya. Tapi sesuai dengan peribahasa, apa daya tangan tak sampai. Seketika keinginan yang melambung tinggi itu akan surut sedikit demi sedikit. Benar, sekarang lah waktu yang tepat untuk bercermin dan merefleksikan diri. Bukannya tidak pantas memiliki impian tinggi, tetapi disetiap keinginan yang tinggi akan ada suatu kekecewaan. Entah itu dari sisi yang mana, keadaan, ketidaktercapaian, entahlah…

Jangan hanya menyiapkan diri akan keistimewaan, yang harus dipersiapkan secara matang ialah kekalahan telak yang berbuah kekecewaan. Setiap individu memiliki perbedaan dalam menghadapi fenomena yang sama. Semua disesuaikan dengan keadaan masing-masing.

Rasa syukur adalah salah satu kunci meredakan kekecewaan, menjadi diri sendiri dan selalu melakukan yang terbaik menjadi hal terpenting untuk memotivasi diri.

Lacak Jejak Bandung Lautan Api (Part 3)

Dalam perjalanan menuju stilasi 5 ini kelompok mendiskusikan letak stilasi dari peta tahun 1945, sampai akhirnya kami menemukan stilasi 5 yang letaknya di tengah jalan namun kurang begitu jelas.

Menuju Stilasi 5

Menuju Stilasi 5

Stilasi ke 5 ini letaknya di Jl Oto Iskandardinata-Jl Kautamaan Istri. Di dekat stilasi ini terdapat sekolah SD yang dulunya dipakai sebagai dapur umum saat Bandung Lautan Api terjadi. Stilasi ini dikelilingi pagar namun sayangnya terdapat bau sampah yang cukup menyengat.

Stilasi 5

Stilasi 5

Di sekeliling stilasi 5 ini lumayan banyak sampah, sehingga tercium aroma yang kurang sedap :p

Selanjutnya kelompok kami melanjutkan menuju stilasi 6 yang letaknya di Jl. Dewi Sartika. Letaknya memang di pinggir jalan, tapi kondisi stilasi ini cukup memprihatinkan karena sangat terlihat kurang terperhatikan.

Stilasi 6

Stilasi 6

Stilasi 6

Stilasi 6

Letaknya yang dipinggir jalan namun dekat juga pedagang sehingga pemandangan di stilasi ini sedikit kurang enak dilihat. Semoga saja kedepannya ada perhatian khusus terhadap stilasi-stilasi ini, karena di balik stilasi ini terdapat sejarah yang menarik.

Di tempat stilasi ini dulunya merupakan pabrik, namun sekarang pabrik ini sudah ditutup.

Stilasi berikutnya, yaitu stilasi 7 yang berada di Jl Lengkong Tengah dan Jl Lengkong Dalam. Stilasi ini cukup memperihatinkan karena letaknya di sekitar perumahan dan terlihat samar karena cat nya hampir sama dengan batu yang ada disekitarnya.

Tempat stilasi 7 ini dulunya adalah perumahan Indo Belanda, dan merupakan kompleks tahanan orang Belanda oleh Jepang.

Stilasi 7

Stilasi 7

Sekarang tempat ini masih menjadi kompleks perumahan, namun ditinggali oleh campuran, tidak hanya Indo Belanda saja, dan tentu saja bukan tahanan Jepang hehe Selain itu ada yang mengatakan bahwa stilasi ini ditempatkan di tempat jatuhnya bom di daerah itu.

Selain itu stilasi 7 kurang terawat karena bisa dilihat ada lempengan yang terlepas dari tempat yang seharusnya.

Stilasi 7

Stilasi 7

Setelah dari stilasi 7, kelompok kami melanjutkan perjalanan yang dapat dikatakn jauh dan beberapa kali kami kebingungan melihat peta jaman kemerdekaan tersebut.

Stilasi 8 ini berada di Jl. Jembatan Baru. Stilasi ini didirikan di jembatan ini karena pada masa itu dijadikan garis pertahan saat pertempuran Lengkong terjadi.

Stilasi 8

Stilasi 8

Tempatnya yang tertutup dan tidak terlalu terlihat dari bagian luar jembatan tersebut. Akirnya kelompok kami melakukan foto-foto karena dianggap dapat melepas lelah karena berjalan selama beberapa jam.

Riyan , Patia, Hanifah

Riyan, Patia, Hanifah

Saya, Patia, Hanifah

Saya, Patia, Hanifah

Perjalanannya memang cukup melelahkan tapi sangat menyenangkan, dan ilmu yang didapat memang dapat dikatakan banyak. hhe

Selanjutnya kami menuju ke stilasi 9 yang sekarang menjadi SD ASMI di Jl. Asmi, dulunya tempat ini merupakan markas pemuda pejuang, PESINDO dan BBRI sebelum terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Selain itu di tempat ini juga menjadi gudang senjata saat Bandung Lautan Api terjadi.

Stilasi 9

Stilasi 9

Stilasi 9

Stilasi 9

Kelompok kami juga mengambil foto saat sibuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikan. Karena letak SD ASMI ini yang teduh banyak pohon rindang oleh karena itu kami betah berlama-lama di tempat ini :))

Saya dan Riyan

Saya dan Riyan

Hanifah dan Patia

Hanifah dan Patia

Sebenarnya ada satu orang lagi tapi dia saking serius mengerjakan sampei tidak ngeuh kamera ckck ini nih Rizky serius bangett.. -__-

Rizky

Rizky

Lanjut ke stilasi 10, wah ini stilasi terakhir 🙂 letaknya cukup jauh dari stilasi 9. Letak stilasi 10 in dekat Tega Lega, kebayangkan dari Jl. Asmi ke Tega Lega jalan kaki jam 12 siang.

Tapi dengan semangat juang yang tinggi akhirnya kami sampai juga stilasi 10 yang sekarang dipakai sebagai Gereja. Dulunya di tempat ini adalah pemancar NIROM, yaa semacam radio.

Stilasi 10

Stilasi 10

Stilasi 10

Stilasi 10

Sama dengan stilasi lainnya, di stilasi ini juga terdapat rute perjalanan dan sejarah singkat dari tempat didirikannya stilasi tersebut.

Lacak Jejak Bandung Lautan Api (Part 2)

Dari 10 stilasi yang ada, kami hanya ditugaskan mencari 9 stilasi saja. Stilasi pertama tidak harus ditemukan karena letaknya cukup jauh dari ke 9 letak stilasi lainnya. Stilasi pertama ini terdapat di daerah Dago tepatnya di gedung yang oleh Jepang digunakan sebagai kantor berita Domei di Bandung, kalau sekarang digunakan oleh Bank BTPN dan di gedung tersebut ada tulisan “De Drie Kleur” . Sayangnya saya tidak memiliki fotonya karena pada saat mengikuti Aleut Heritage Building saya lupa membawa kamera. 😀

Panitia pun memberi aba-aba untuk memulai perjalanan Amazing Race yang dimulai dari stilasi 2 tersebut. Kebetulan stilasi 2 berada di Braga tepatnya di Gedung Bank BJB sehingga kami pun sibuk mengambil foto dan mencatat isi dari stilasi tersebut beserta filosofi yang terkandung di dalamnya.

Dulu gedung Bank BJB di jalan Braga ini bernama Gedung Bank Dennis, digedung tersebut terjadi perobekan Bendera Belanda oleh Karmas yang dibantu oleh Mulyono. Perobekan itu terjadi pada warna Biru bendera Belanda saja. Sehingga yang berkibar pada akhirnya adalah bendera merah putih.

Stilasi 2

Stilasi 2

Stilasi 2

Stilasi 2

Letak stilasi 2 tersebut di pinggir jalan Braga yang cukup ramai, mungkin akan mudah ditemukan karena banyak orang berlalu lalang di dekat stilasi 2 ini. Di satu sisi stilasi ini terdapat peta kesepuluh stilasi beserta sejarah singkat mengapa stilasi tersebut diletakan di tempat tersebut. Sedangkan di sisi lainnya ada lirik lagu Halo-Halo Bandung .

Setelah kelompok kami selesai mencatat mengenai informasi stilasi 2 ini dan meminta tanda tangan panitia, kami pun melanjutkan perjalanan menuju stilasi ke 3. Baru beberapa langkah meninggalkan stilasi 2, kelompok kami sibuk memutar mutar peta tahun 1945 yang ada di tangan kami masing-masing. Kami tidak tau harus ke arah mana dan bagaimana peta ini sebenarnya. Tidak jarang saya mengeluarkan handphone dan melihat peta di mana letak kami berada, tapi tetap saja, membaca peta itu sulit jangankan peta tahun 1945 peta di handphone saja sulit kami baca. haha :p

Tapi kami tidak putus asa, kami terus melihat peta dan pada akhirnya kami tau “cara kerja” membaca peta tersebut. Sampailah kami di stilasi 3 yang ternyata letaknya dekat Mesjid Agung Alun-Alun Bandung dekat Gedung Asuransi Jiwasraya, yang dahulu dipakai sebagai markas resimen 8 yang dibangun pada tahun 1922, dahulu TKR pernah melakukan rapat digedung ini, yang dinamakan Gedung NILLMIJ.

Swarha

Swarha

Stilasi 3

Stilasi 3

Stilasi tersebut terletak dekat Hotel Swarha, hotel tersebut dulunya sering dipakai menginap tamu negara saat Konfrensi Asia Afrika berlangsung. Kembali lagi mengenai stilasi ke 3 ini. Pada stilasi tersebut ada tempelan peta dan sejarah singkat mengenai stilasi tersebut, yang berisi “Markas Resimen atau Gedung NILMU (sekarang gedung asuransi Jiwasraya) yang berlokasi di Jl. Asia Afrika depan Alun-alun”. Sedangkan ada juga lirik lagu Halo-halo Bandung sama seperti stilasi sebelumnya.

Perjalanan mencari stilasi belum selesai masih ada 7 stilasi tersisa, kelompok kami melihat peta kembali dan mengira-ngira letak stilasi ke 4 serta menyocokan dengan petunjuk yang diberikan oleh panitia.

Laskar Angkatan Pemuda Indonesia

Laskar Angkatan Pemuda Indonesia

Laskar Angakatn Pemuda Indonesia

Laskar Angakatn Pemuda Indonesia

Cukup sulit menenukan stilasi ke 4 ini. Sebenarnya kelompok kami menuju stilasi 6 terlebih dahulu karena dirasa menghemat waktu tapi di sini saya akan menceritakan berurutan saja ya 😀

Dapat dikatakan bahwa stilasi ke 4 ini sulit ditemukan karena terletak di sebuah rumah Jl. Simpang. Kami pada awalnya tidak menemukan stilasi ini, namun pada akhirnya ketemu juga 😀

Stilasi 4

Stilasi 4

Stilasi ini terletak di gang sebuah rumah yang dapat dikatakan sempit. Dalam stilasi ini ada peta perjalanan juga dan sejarah singkat mengenai stilasi tersebut. Dalam rumah ini A. H. Nasution dan beberapa pemuda merumuskan pembumihangusan Bandung, selain itu perintah untuk mengosongkan Kota Bandung di komandoi dari rumah ini. Rumah ini sekarang menjadi Showroom motor.

Kelompok kami juga mengambil foto anggota kelompok yang sedang sibuk menulis informasi mengenai stilasi 4 ini.

Rizky, Riyan, dan Patia

Rizky, Riyan, dan Patia

Saya (Elfa), dan HanifahFoto ini diambil di gang rumah yang terdapat stilasi 4, di daerah Jl. Simpang.

Lacak Jejak Bandung Lautan Api (Part 1)

Kemarin, tepatnya tanggal 31 Maret 2013 saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Komunitas Aleut dan Mooi Bandung. Acara yang diadakan adalah lacak jejak Bandung Lautan Api, di sana kita diharuskan mencari 10 stilasi Bandung Lautan Api. Saya ada di kelompok 3 dengan nama kelompok API (Angkatan Pemuda Indonesia) nama tersebut merupakan nama dari salah satu laskar pada saat peristiwa Bandung Lautan Api terjadi.

Kelompok 3 ini terdiri dari Muhammad Riyan sebagai ketua kelompok, Patia, Hanifah, saya sendiri dan Rizky Kurniawan. Riyan dan Patia merupakan murid IS 2 SMAN 4 Bandung, sedangkan kami yaitu saya, Hanifah dan Rizky merupakan guru PPL mata pelajaran Sejarah di SMAN 4 Bandung. Kerja sama dalam kelompok kami begitu baik dan semangat kami tidak pernah padam meskipun kami merupakan kelompok yang terakhir datang ke lokasi perkumpulan terakhir yaitu Museum Sri Baduga.

Kelompok kami terlambat datang dikarenakan rasa keingin tahuan yang tinggi sehingga kami banyak bertanya pada panitia yang sedang berjaga di pos setiap stilasi 😀

Langsung saja kita runut mengenai perjalanan Lacak Jejak Bandung Lautan Api :p

Pukul 07.30 pagi di hari Minggu yang cerah tanggal 31 Maret 2013 kami berkumpul di Gedung Bank BJB Braga. Setelah semua anggota kelompok hadir, panitia pun membentuk kelompok. Saya ada di kelompok 5 namun karena yang hadir di kelompok 5 itu hanya 2 orang saja jadi kelompok 5 pun di pecah. Dan saya pun masuk ke kelompok 3 yaitu yang diketuai oleh Riyan.

Panitia pun membagikan peta tahun 1945 dan potongan foto setiap stilasi untuk di telusuri.

Peta Tahun 1945

Peta Tahun 1945

Cuplikan Foto 10 Stilasi

Cuplikan Foto 10 Stilasi

Kami diharuskan menemukan 9 Stilasi (karena stilasi pertama letaknya cukup jauh dari 9 stilasi lainnya, yaitu di daerah Dago). Kami mulai dari stilasi kedua.

Ketika melihat peta tahun 1945 untuk pertama kalinya dengan nama-nama jalan khas Belanda kelompok kami sempat kebingungan, sehingga membutuhkan waktu beberapa saat untuk mengerti peta tersebut dan di mana letak kami di dalam peta.

Tapi beruntungnya jalanan tahun 1945 tidak jauh berbeda dengan jalanan tahun 2013 ini, hanya mungkin bangunan saja yang banyak berubah. Tapi semoga pemerintah akan terus menjaga bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah di Kota Bandung tercinta ini 😀

Setelah melihat peta, kelompok kami juga merasa bingung dengan cuplikan foto stilasi tersebut karena letaknya yang kurang terekspos sehingga tidak jarang masyarakat sekitar yang tinggal di dekat stilasi-stilasi tersebut tidak menyadari bahwa batu yang berdiri tegak itu adalah stilasi yang merupakan salah satu simbol sejarah Bandung Lautan Api.

Pengaruh Kebudayaan Cina Terhadap Kebudayaan Jepang

Kebudayaan Cina memiliki usia yang tidak muda, karena kebudayaan bangsa Cina sudah ada sejak lama dan terus dijaga hingga sekarang ini. Karena kebudayaan yang sudah tua dan tetap terjaga sehingga tidak mengherankan apabila kebudayaan Cina merasuk ke daerah sekitarnya, seperti Jepang yang melakukan akulturasi kebudayaan, antara kebudayaan pendatang atau Cina dengan kebudayaan asli Jepang. Berkembangnya kebudayaan Cina ke luar daerah Cina atau ke negara tetangga Cina tidak lepas dari peran orang-orang Tionghoa yang datang dan menetap di Cina. Mereka mempengaruhi kebudayaan Jepang dengan ajaran yang dibawanya seperti Konfusianisme, Taoisme dan Agama Budha yang sangat erat dengan kebudayaan di Cina yang dibawa ke Jepang.

Orang-orang Tionghoa tidak secara sengaja menyebarkan kebudayaan Cina. Orang Jepang yang melihat cara hidup orang-orang Tionghoa dan menggap indah serta menirunya. Yang dimaksud dengan meniru ialah adanya akulturasi yang terjadi di antara kebudayaan tersebut yang nantinya hasil akulturasi itu banyak diterapkan di wilayah Jepang. Seperti contohnya dalam bidang arsitektur, pada kerajaan Jaman Yamato di Jepang, dalam kerajaannya terdapat arsitektur hasil akulturasi kebudayaan Cina dan kebudayaan Jepang. Di sini dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Cina sangat diminati oleh orang-orang Jepang sehingga terjadi akulturasi dalam arsitektur yang diterapkan dalam kerajaan di Jepang yang sudah berbentuk kesatuan tersebut, yaitu kerajaan pada Jaman Yamato.

Namun dalam bidang pemerintahan, Jepang tidak terjadi perubahan yang dihasilkan dari akulturasi dengan Cina. Seperti pada kedudukan Tenno yang merupakan keturunan langsung dari Ameterasu. Serta mengenai kepercayaan dari orang Jepang tetap berpegang pada ajaran Shinto, tidak terpengaruh dengan ajaran konfusianisme. Hanya saja Jepang meniru pembuatan kota seperti di ibukota Cina, Chang’an dan menjadikan Heijō (sekarang Nara) sebagai ibukota sekaligus pusat pemerintahan pada tahun 710 M dan juga meniru Cina yaitu berpusat pada kerajaan dengan undang-undang Taihounoritsuryou.

Adapun kebudayaan Jepang yang mengalami akulturasi dengan kebudayaan Cina, diantaranya :

  1. Tulisan dan Bahasa

Bangsa Jepang pada awalnya belum bisa membaca dan menulis apalagi memiliki sistem penulisan sendiri sehingga dengan dibawanya bahasa Cina oleh seorang sarjana Korea yang bernama Wani sebagai perantara maka orang Jepang mengadopsi tulisan dari Cina tersebut. Pada awalnya Wani mengajarkan tentang huruf Cina di Jepang, selain itu Wani juga mengajarkan bahasa Cina di Jepang karena banyak yang mempelajari dan memang belum ada sistem penulisan di Jepang maka jepang menggunakan tulisan Cina tersebut dengan menggunakan dua cara, yaitu cara fonetis dan cara ideografis. Dalam cara fonetis orang Jepang menulis dan membaca kata-kata Jepang yang ditulis oleh huruf Cina dan dengan bunyi yang sama namun dengan ucapan Jepang, pada awalnya terjadi kekacauan karena masih sulit berdaptasi dengan orang Jepang namun lama-kelamaan mengalami perkembangan ke arah yang sempurna karena tiap kata Jepang dapat dituliskan dengan baik. Bahasa dan tulisan yang berasal dari Cina ini dijadikan bahasa dan tulisan resmi di Jepang.

Huruf yang dipakai pada waktu itu adalah huruf Kanji degan tulisan Manyogana, yaitu tulisan huruf China degan struktur tulisan bahasa China. Selanjutnya pada abad ke 9 lahirlah huruf Jepang yang disebut dengan huruf Katakana dan Hiragana. Hal ini dikarenakan pengaruh Cina di Jepang lambat laun memudar jadi Jepang menciptakan sendiri huruf yang diadaptasi dari huruf Cina. Huruf Katakana adalah yang pertama dibuat, merupakan huruf yang diambil dari bagian-bagian huruf Kanji. Huruf ini dikarang oleh Kibinomakibi. Kemudian lahir pula huruf hiragana yang dikarang oleh Kobodaishi. Huruf hiragana pada awalnya dipergunakan oleh kaum wanita dan huruf katakana dipergunakan oleh kaum laki-laki. Tetapi pada akhir-akhir ini, orang Jepang lebih banyak mengunakan huruf Hiragana daripada Katakana.

b. Agama

Mayoritas di Jepang menganut agama Shinto. Bila dalam bahasa Mandarin maka menjadi shin dan tou yang bermakna “jalan/jalur dewa”. Shinto merupakan agama resmi yang berasal dari Jepang. Shinto merupakan penyembahan kepada kammi (dewa, roh alam, atau sekedar kehadiran spiritual). Kammi merupakan benda-benda dan proses alam, misalnya Amaterasu, sang dewa matahari.

Ajaran Shinto ini merupakan animisme karena mempercayai banyak dewa. Dalam ritual keagamaannya Shinto melakukan penyembahan pada arwah leluhur/ nenek moyang. Dan yang paling banyak disembah oleh umat Shinto adalah dewa matahari Amaterasu. Karena itu ajaran Shinto memuja kaisar Jepang yang dianggap keturunan Amaterasu. Dalam agama Shinto tidak ada ajaran yang pasti, tidak ada tempat ibadah khusus, tidak ada dewa yang benar-benar dianggap paling suci, dan tidak ada cara khusus untuk menyembah kammi.

Pada sekitar abad ke 5 masuklah agama Budha dari Cina ke Jepang. Ajaran agama Budha di Jepang mempercayai dewa matahari atau dikenal dengan nama Amaterasu sebagai dewa tertinggi yang dianggap sebagai penjelmaan Budha Daichi Nyorai. Agama Budha di Jepang yang paling terkenal adalah ajaran Budha Zen yang diserap dari China. Sama seperti agama Budha di seluruh dunia, kitab suci agama Budha di Jepang adalah tripitaka dan tempat ibadahnya adalah kuil. Kuil-kuil Shinto mulai dibangun sebagai rumah bagi para kami secara permanent (shaden).

c. Filsafat

Dengan masuknya kesusasteraan Cina ke Jepang, filsafat Cina pun banyak tersiar di kalangan orang-orang besar di Jepang. Antara lain Konfusianisme dan Taoisme. Konfusianisme menanamkan pengaruhnya seperti pemujaan terhadap nenek moyang, kesetiaan kepada keluarga, kebaktian anak kepada keluarga, dsb. Pengaruh Taoisme masuk pula ke Jepang unsur dari Taoisme dalam bentuk penggunaan magic atau sihir.

d. Ilmu Falak

Dalam kepercayaan orang Jepang juga memegang kepercayaan atau perhitungan mengenai peruntungan dalam kehidupan. Perhitungan seperti berdasarkan Bulan (ilmu falak) atau shio yang dikenal dari Cina.

e. Tenunan

Sejak zaman Kofun sudah dikenal sistem menjahit pakaian yang nantinya dikenal dengan nama Kimono. Pada awal perkembangannya Cina mempengaruhi Jepang dengan pakaian yang terdiri dari dua potong pakaian yaitu pakaian atas dan pakaian bawah. Haniwa mengenakan baju atas seperti mantel yang dipakai menutupi kantoi. Pakaian bagian bawah berupa rok yang dililitkan di pinggang. Dari penemuan haniwa terlihat pakaian berupa celana berpipa lebar seperti hakama. Kemudian  pakaian yang dijahit, bagian depan kantoi dibuat terbuka dan lengan baju bagian bawah mulai dijahit agar mudah dipakai. Selanjutnya, baju atas terdiri dari dua jenis kerah yaitu kerah datar sampai persis di bawah leher (agekubi) dan kerah berbentuk huruf “V” (tarekubi) yang dipertemukan di bagian dada.

f. Pertanian

Kebudayaan Cina juga telah banyak berdatangan sejak abad ke 3 di daerah Kan di Jepang, dengan masuknya perunggu dan pertanian, maka banyak sekali masyarakat Jepang yang memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain itu juga dikenalnya alat pertanian dari bahan baku logam yang diambil dari kebudayaan Cina yang masuk ke Jepang.

g. Kerajinan

adanya sistem penghalusan keramik pada masa Yayoi juga hasil pengaruh yang dibawa oleh Cina ke Jepang selain itu teknologi perkayuan, pengolahan benang sutra yang banyak dilakukan di Jepang berasal dari Cina.

h. Pengobatan

Pijat tradisional China kuno yang dikenal Shiatsu atau juga dikenal sebagai ‘anma’. Anma kemudian diadopsi dan diadaptasi oleh masyarakat Jepang. Terapi anma ini secara bertahap berevolusi dan dipengaruhi oleh kebudayaan dari timur dan barat.

Terapi Amma (atau anma dalam bahasa Jepang) telah digunakan selama berabad-abad untuk menangani berbagai macam penyakit. Mulai dari sakit ringan, nyeri, sampai sakit yang serius atau parah.

Sumber : Dari berbagai sumber

Situs Kabuyutan Ciburuy

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman pergi ke Garut, untuk mengadakan penelitian salah satu mata kuliah mengenai situs kabuyutan Ciburuy, tempatnya begitu jauh dan jalannya pun kecil, tapi itu menandakan bahwa tempat yang saya kunjungi masih seperti dulu baik situsnya maupun lingkungan sekitarnya yang merupakan perkampungan adat..

Pengertian Kabuyutan
Pada masa pra Islam Sunda dikenal suatu tempat yang dinamakan Kabuyutan (Mandala). Kabuyutan atau Mandala adalah sebuah tempat khusus yang diistimewakan diperuntukan kegiatan keagamaan dan intelektual. Misalnya seperti di Kawali (Ciamis), tepatnya di kompleks Astana Gede, berkedudukan dan berperan selain sebagai ibukota Kerajaan Galuh, juga sebagai sebuah kabuyutan. Di situ terdapat beberapa buah prasasti batu yang ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda Kuna. Seperti halnya Astana Gede Kawali di Kabupaten Garut ada sebuah tempat yang hingga sekarang masih tetap dipelihara dan dilestarikan keberadaannya karena merupakan situs peninggalan sejarah purbakala. Tempat yang dimaksud adalah Kabuyutan Ciburuy (sangat menarik tempat ini oleh sebagian masyarakat, terutama oleh keluarga kuncen masih disakralkan bahkan setiap tahun diadakan upacara Seba).
Menurut Ayat Rohaedi, Kabuyutan atau bangunan suci di Jawa Barat tidak selalu disamakan dengan bangunan-bangunan atau artefak-artefak, atau struktur candi seperti anggapan umum dewasa ini.
Dalam sumber naskah sejarah periode Kerajaan Sunda ada istilah kabuyutan. Pada dahulu kala kabuyutan ini dipakai sebagai pusat kekuatan raja dan kerajaannya oleh sebab itu kabuyutan ini merupakan tempat pertama yang diserang apabila ada penyerangan anatara kerajaan.
Asal Usul Situs Kabuyutan Ciburuy
Ciburuy adalah nama sebuah kampung di desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut. Letaknya di kaki Gunung Cikuray, terlewati oleh tiga wahangan (sungai kecil), yakni sebelah timur wahangan Cisaat, sebelah utara Baranangsiang, dan wahangan Ciburuy di sebelah barat.
Gunung Cikuray dahulunya biasa disebut Srimanganti, yang berkaitan dengan peristiwa ditemukannya naskah lontar Sunda Kuna di sekitar daerah itu oleh Raden Saleh tahun 1856, yang kemudian diserahkan pada Bataviaasche Genootschap (sekarang Museum Nasional Jakarta). Naskah lontar terdapat pada kropak no. 410 dan diberi tulisan : Carita Pakuan naskah Raden Saleh, Pantun Sunda pada daun lontar, penulisannya Kai Raga, cucu pertapa di Gunung Cikuray (CM. Pleyte, TBG. 1914, halaman 371).
Jika dikaitkan dengan letak Kabuyutan Ciburuy yang berada di lereng sebelah barat Gunung Cikuray, ada kesamaan dengan penjelasan di atas sebagai yang disucikan karena tempat kegiatan keagamann di mana pemukanya ialah Kai Raga. Bangunan fisik kabuyutan Ciburuy sama dengan kabuyutan yang lainnya, yakni menghadap ke Gunung Cikuray, salah satu gunung yang tinggi di Kabupaten Garut. Luasnya sekarang tidak kurang dari satu hektar dan ditanami bermacam pepohonan besar dan kecil, hal ini juga yang menonjolkan ciri-ciri dari sebuah kabuyutan.
Sebagai tempat yang memiliki peninggalan arkeologis Kabuyutan Ciburuy memiliki rupa-rupa bangunan seperti Bumi Patamon (tempat menerima tamu), Leuit, Saung Lisung dan Padaleman yang digunakan untuk menyimpan rupa-rupa titinggalan karuhun seperti trisula, mata tombak, genta, naskah, dan sebagainya. Dahulunya Padaleman digunakan untuk tinggal para wiku atau pandita (agamawan Hindu/ Budha) yang letaknya lebih tinggi daripada bangunan lainnya dan agak tersembunyi karena tertutup rimbunan pohon yang tinggi dan besar. Oleh sebab itu maka Kabuyutan Ciburuy disebut Scriptorium atau temapt kegiata membuat naskah-naskah dan atau tempat menyimpan naskah-naskah dari luar, juga terbukti ditemukan data pendukungh seperti banyaknya naskah lontar dan nipah, pisau, pangot, gunting, dan frame kacamata dari tanduk yang kemungkinan besar di pkai para wiku waktu menulis naskah.
Kabuyutan Ciburuy ini bermula ketika pada zaman dahulu tempat tersebut digunakan oleh Prabu Kiyan Santang sebagai arena pertarungan dengan jawara-jawara di Pulau Jawa. Ini bermula pada saat Prabu Kiyan Santang menemukan sebuah keris dan beliau mendapat amanat untuk menancapkannya pada sebuah batu , sehingga dari batu keluar air. Lalu beliau disuruh mengikatkan keris tersebut pada sorbannya dan dihanyutkan sampai keris itu berhenti. Di tempat keris itu berhentilah Prabu Kiyan Santang akan menemukan lawannya.
Pada suatu hari Prabu Kiyan Santang sedang mengadakan pertarunagan di daerah tersebut tetapi tidak ada satupu lawan yang dapat mengalahkannya, hingga datanglah utusan Sayyidin Ali yaitu K.H mustofa yang berhasil mengalahkannya yang memebri amanat kepada beliau untuk pergi ke tanah suci untuk bertemu Sayyidin Ali dan senjata-senjata Prabu Kiyan Santang ditinggalkan di Ciburuy yang menurut penuturan Juru Kunci senjata tersebut di tinggalkan dalam sebuah gentong.
Di Situs Kabuyutan Ciburuy ini terdapat larangan-larang yaitu setiap hari selasa dan jumat ada larangan utnuk berkunjung atau mendatangi tempat tersebut. Di Situs Kabuyutan Ciburuy ini juga sering mengadakan upacara-upacara ritual yaitu pada tanggal 1 .Muharam sering mengadakan upacara Seba. Penghitungan hari d daerah ini punberbeda yaitu dimulai dari jam 4 sore bukan dari jam 1 pagi seperti biasanya.
Pemilihan kuncen taua juru kunci itu berdasarkan keturunan tetapi tidak setiap keturunan bisa menjadi Juru Kunci hanya yang mendapat ilham atau mimpi yang mampu utnuk menjadi Juru Kunci. Juru kunci pada saat ini yaitu Yana Mulayan yang merupakan keturunan ke-149.
Menurut penuturan sang Juru Kunci pada masa kolonial tempat ini tidak dimasuki oleh para pemerintah Belnada karena konon katanya jika tempat ini dilihat dari luar bagaikan hamparan padang rumput atau tegal.

Peninggalan-Peninggalan Kabuyutan Situs Ciburuy
Luas Situs Kabuyutan Ciburuy bagaikan museum mini yang menyimpan benda cagar budaya. Benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala di situs Kabuyutan Ciburuy berasal dari peninggalan masa Megalitik dan Klasik. Peninggalan-peninggalan Kabuyutan Situs Ciburuy yaitu :
Terdapat Lima rumah adat:
a. Bumi Padaleman, untuk menyimpan benda-benda pusaka yang berupa naskah kuno daun lontar dan nipah, juga terdapat kujang, untuk menyimpan benda yang berupa senjata tajam seperti keris, kujang, trisula, dan alat-alat kesenian yaitu Goong Renteng yang menjadi cikal bakal kesenian degung sekarang. Yang dikeluarkan pada bulan muharam dan dimandikan dengan menggunakan kembang tujuh rupa serta penduduk sekitarnya pun harus menggunakan baju adat.

Bumi Padaleman

b. Bumi Patamon, adalah sebuah tempat yang digunakan untuk menerima tamu dari luar juga untuk tinggal juru kunci, jadi bisa disebut juga rumah dinas juru kunci.
c. Lumbung padi, untuk menyimpan padi yang biasanya disumbangkan oleh penduduk sekitar sertelah mereka panen.

Lumbung Padi
d. Tempat pangsujudan, yaitu berupa batu-batu yang merupakan tempat bertapa dan tempang pangsujudan K.H Mustofa yang disebut sebagai nama lain dari Prabu Kiyansantang, yang ada sujud ketiga mendapat ilham sehingga di situs ini jumlah gerbang ada 3 sebagai symbol dari hal tersebut.

Pangsujudan
e. Pangalihan, tempat untuk menyimpan pagar, jadi maksudnya pada bulan muharam pagar yang mengelilingi bumi padaleman harus diganti sebelum diganti pagar itu terlebih dahulu harus disimpan di bumi pangalihan terlebih dahulu.

Pangalihan
Kelima bangunan itu merupkan wujud atau dismbolkan dari rukun islam yang berjumlah 5 rukun.Dan ada satu bangunan lagi sehingga sering disimbolkan sebagai rukun iman bangunan tersebut yaitu adanya saung lisung yang sering digunakan tempat untuk menumbuk padi oleh para penduduk.
Terdapar juga peninggalan senjata berupa keris, bende ( lonceng yang terbuat dari perunggu ), kujang ( senjata Prabu Siliwangi ), trisula, tombak. Dan ada juga yang berupa Naskah Kuno,tulisan Jawa Kuno yang ditulis oleh Prabu Kenyan Santang di atas daun nipa dan daun lontar. Naskah ini merupakan naskah yang paling tua di Situs Ciburuy, isi naskah ini disusun pada abad ke-15 Masehi. Naskah ini dinamakan “ Amanat Galunggung “. Dinamakan tersebut karena isinya berupa nasihat-nasihat mengenai etika dan budi pekerti Sunda lama. Jumlah naskah yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy saat ini sebanyak 27 keropak yang tersimpan dalam 3 peti. Setiap keropak jumlahnya bervariasi, antara 15 sampai dengan 30 lempir( lembar ). Dari jumlah tersebut hanya tinggal sepuluh keropak yang masih utuh. Sementara sisanya tidak lengkap karena sudah rusak dan patah.
Transliterasi Teks Naskah Lontar :
1a.1. tangkeun bumi / care kaki hamay cogwang / samapun panteu tandanging / hwarengngan eukeur nu bwabwat / datang ka bulan ala-
2. eun / twahaaning tuluy nu ngowo / care kaki hamay conggwang / twahaan paraiyatna / na ngawawwa hanteu nu nulung / saur taa-
3. n deuwi sita / akiing sabeunang-beunang wengina / ditanem inya balina / meunang pakeun puluh wengi /
4. neut ageing sakamantrian / saur taan deuwi sita / bwah aki urang ngaranan / eucu kita kasep teuing / care kaki hamay
1.b.1. n kita / aki aing disasara / awaking ku ramadewa / di kadatwan panycawati / sugana kita hamwa nyahwa / awaking si deuwi sita /
2. pawarang sang ramadewa / care kaki hamay canggong / aduh ila-ila teuing / lamun kitu twang saur / ngaranna tandang
3. ing / nam onam urang ka batur / tohaan tuluy nu angkat / diiringkeun ku akiing / saundurna ti saapan /
4. angkat turut tajur ngwara / jauh piraku jauhna / cuduk sakali ka batur / deung akiing hamay cogwang / tuluy dipen-
2a.1 rung aing mujur / ja hade impyian aing / saleumpang aing ka cai / nyanglandeuh ka tampyiankeun / sadatang inya ka cai / datang ka
2. saapanana / teka najeur ngareungeuhheun / diheueum di dalem beuteung / rarasan di jembawasa / lemek dina jero hate /
3. satembeyna diwekaskeun / carekna karah skini / na naha ieu ngaranna / beunang saapanawaking / elong tulis dipa-
4. rada / dibalun ku boeh larang / satembey inya dipaku / na naha rah ieu ngaranna / mama ieu beurat teuing / dibaw kana parakan /
2b.1. hamwa hurung bwaga rampes / syieup pisis syieup omas / ja ini dihade-hade / satembeyna bray dibuka / ku aki-
2. ing hamay conggwang / reg meneng nu ngareungngeuhheun / hajetwong nepak hareugu / teher dideuleu diteuteuh / nyeueung iny putri geulis /
3. hanteu babandinganana / demuk teher timbun buuk / na geulis hanteu bandingna / na akiing hamay conggwang / na rasa sema wala-
4. ngati / nyaur taan deuwi sita / aki ulah walangati / baaning ka batur kita / aing jieun ebwan-ebwan / aing mupulihha-
3a.1. n / tuluyna lumpat ka cai / sadatang ka twang ambu / saur taan deuwi sita / anaking bujanggalawa / hwarengan siya nuturkeun / asingna aki
2. leungiteun / utun aing ngamandyan geura urang pulang deui / ikeun mangkana di ci / na ambu deung tuang seuwu / & / tucap aki hamay conggwang / bwat-
3. na eukeur milangngan / nywaryeng kana ayunan / nyeueung inya ageus kwaswang / ka mana eta angkatna / mwa burung aing disaur / ras reuwas
4. hajeter geder / rasa dwasa kanywahaan / mwa burung aing diseuseul / awaking dwengkap ka paeh / ja kini teuing rasana / leungiteun ku na asu-
3b.1. conggwang / aing dingaranan inya / ngarana bujanggalawa / ja seuweu ramadewa / datang ka lelengser mapah saur taan deuwi sita / aki asuh eun-
2. cu kita / nembal aki hamay canggwang / rampes kami ngasuh inya / satembey inya dyiayum / twahaan angkat ka cai /
3. mawa kateh seuseuhheun / ikeun mangkana di cai / & / tucap aki hamay canggwang / eukeur ngayun-ngayun bwancah / teher maca
4. watang ageung / rwana twagwy milangan / dingaran bujanggalawa / bwat di jeba ayunan / neut hudang malepas maten / galusur tina ayuna-
4a.1. han / kena hamwa reuwas / manusa awwar dewata / wenang ganal wenang alit / aing mijil kasedaan / metukeun kasemba-
2 wan / na watang dijyieun bwanycah / mangka sarwa ageungna / bitanna bujnggalawa / saageus nyaur sakitu / dicwakot na apus a-
3. geung / diteudeun kana ayunan / sabwat dina ayunan / dikawihhan bangbalikan ku akiing hamay canggwang / tuluy nu satuduh metu /
4. sakecap mretyaksa / satembeyna jadi bwanycah / na sanghyang watang ageung / teka sarwa ageungna / deungeunna bujanggawala / ingkeun mangkana diayun /
4b.1. pupulihkeun deuwi sita / sapulang taan ti cai / teher ngais twang seuweu / sacuduk taab ka batur / nywaryeang na hamay canggwang / nyeueung inyangais /
2. bwanycah / lemek dina jero hate / rarsaan di jembawasa / kini lamun diwekaskeun / hwarengngan lumpat ka cai / si utun bujangga-
3. lawa / na akiing hamay canggwang / rec tungkul dibeka lain / saugah taan ka bumi / ngahusir ka ba ayunan / dek ngayun na
4. tuang seuweu / breah bwanycah dina ayunan / reuwas teher ngareungngeuhheun / rasa kelar dina seuweu / teka sarwa kasepna / deu-
5a.1. ngeun na seuweu / sup nyaluuh di pucuk / nalengkahhan na gapaten / saundur ti batur manggu / ti akiing hamay cang-
2. gwang / na angkat jwangjwang mwaretang / sakeudeung hateu kajeueung / nyawarang leuweung sakeukeudeung / nywarang reuma sababatan / megat pasir mwa-
3. twang mwanggwar / malingping najak nyalandeuh / jauh piraku jauhna / datang ka catihhanna / datang sakali ka dayeuh / ka kadatwan
4. lengkawati / mipir pager tebeh wetan / sacunduk ka pitunggwan / bat ngaliwat sasakali / carek urang lengkawati / mu-
5b.1. jeung deungna twang seuweu / ulang panapak ka lemah / dingaran na pupalawa / galasar di panahtaran / galusur na twang ambu / pingping kwaneng mwatwang watwan /
2. ti katuhu ngeumbing layeun / ti kenyca neueulkeun linycar / meresutkeun twang ramwa / kajungjung ku ali pyung / cab tuy tapih
3. meubeut keuneung / ngeureut kana bitis kwaneng / bat lempay dina panahtaran / pug deui bujanggalawa / saurna bujanggalawa / utu-
4. n prebu puspalawa / adiing sya ti heula / ambuing mangka di tengah / ikeun aing ti peudeuri / lumalenggwak lumalenghway / na ambu deu-

Sumber : Dari berbagai sumber dan penelitian langsung ke tempat.

Kajian PLSBT dan kaitannya dengan 5W 1H

What?
Apakah PLSBT itu?
Banyak sekali masalah-masalah yang ada di sekitar kita, misalnya saja masalah lingkungan, masalah sosial, masalah budaya, dan masalah yang ditimbulkan dari efek ilmu dan teknologi. Mata kuliah PLSBT adalah salah satu dari pemecahan kekompleksitasan masalah-masalah tersebut, PLSBT (Pendidikan Lingkungan, Sosial, Budaya, dan Teknologi) adalah suatu studi atau kajian terhadap masalah-masalah lingkungan, sosial, budaya, dan teknologi secara scientific-comprehensive-general-interdisciplinary-empiric dalam perspektif pendidikan untuk di carikan alternatif pemecahannya. Dan diharapkan setelah mengikuti PLSBT ini, mahasiswa dapat mempunyai kepedulian terhadap lingkungan, sosial, budaya, dan teknologi serta dapat memberikan kontribusi terhadap pemecahan masalah-masalah tersebut yang ada disekitarnya. Serta untuk menumbuhkan kesadaran diri selaku makhluk Tuhan yang diharuskan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan alamnya.

Where?
Di manakah PLSBT diterapkan?
Pengembangan serta penerapan PLSBT sangat diperlukan oleh masyarakat sekitar yang memiliki masalah-masalah yang kompleks mengenai lingkungan, sosial, budaya, dan teknologi, karena sangat diperlukan sekali dalam peningkatan kesejahteraan hidup serta kelestarian alam. Misalnya saja membuang sampah sembarangan di lingkungan masyarakat, hal kecil ini akan menimbulkan suatu masalah yang kompleks terhadap kelangsungan hidup manusia dan alam, hal yang ditimbulkan dari membuang sampah sembarangan itu adalah banjir dan bila banjir secara terus menerus akan mengakibatkan longsor. Masalah itu akan merugikan manusia juga, maka dengan adanya kajian PLSBT ini akan memberikan suatu kontribusi untuk tidak meremehkan hal-hal kecil yang akan berakibat fatal terhadap manusia dan mengganggu kelestarian alam.

When?
Kapan kah PLSBT diterapkan?
Kesadaran akan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan sangat diperlukan sejak dini, dengan pembinaan moral, mental, nilai, dan makna dari kajiannya. Penerapan PLSBT ini di kehidupan sehari-hari tidak pada waktu setelah timbulnya masalah-masalah terhadap lingkungan, sosial, budaya dan teknologi, namun harus diterapkan sejak dini, maka dengan PLSBT ini, mahasiswa dapat meningkatkan wawasan terhadap permasalahan, dan membantu memecahkannya.

Who?
Siapa saja kah yang harus menerapkan PLSBT?
Setiap orang harus memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan, sosial, budaya, dan teknologi, yang sebaiknya sudah ada sejak dini. Penerapannya tidak harus selalu pada mahasiswa namun anak usia dini pun harus sudah diperkenalkan misalnya bagaimana menjaga kelestarian lingkungan, bersikap terhadap sesame, dan menyikapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Why?
Mengapa PLSBT diterapkan pada masyarakat?
Pendidikan lingkungan, sosial, budaya dan teknologi sangat dibutuhkan masyarakat, karena dengan begitu masyarakat akan memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin terjadi. Biasanya masalah yang mungkin terjadi di lingkungan masyarakat, oleh karena itu mahasiswa yang telah mempelajari PLSBT dapat mengatasi masalah itu dengan memberikan kontribusi terhadap lingkungannya.

How?
Bagaimakah mahasiswa yang diharapkan setelah mempelajari PLSBT?
Setelah mempelajari PLSBT, diharapkan mahasiswa dapat menerapkannya di lingkungan sekitarnya, karena akan sangat membantu dalam penyeimbangan alam dan kesadaran manusia.

Perkembangan Dinasti Han

Awal Terbentuknya Dinasti Han


Dinasti Qin sebagai titik tolak yang memberikan sumbangsih besar dalam sejarah Tiongkok, yaitu mempersatukan seluruh daratan Tiongkok di bawah kolong langit (Tian Xia). Suatu dinasti yang diawali dengan kepercayaan bahwa “semua manusia pada dasarnya adalah jahat”, sehingga dinasti ini dijalani dengan adanya keabsolutan terhadap hukum yang mengikat. Inilah suatu dinasti yang dipimpin oleh seorang kaisar yang mengklaim diri sebagai “Raja di atas segala raja”, yaitu Qin Shihuangdi, yang dengan segala kebengisannya menyebabkan dinasti ini berumur pendek dan tidak bertahan lama. Sehingga, tidak heran ketika kaisar pertama Dinasti Qin meninggal, banyak pihak berusaha untuk memberontak.
Seorang petani yang menjadi pemimpin salah satu pemberontakan pada masa itu bernama Liu Bang. Dalam pemberontakannya, ia membutuhkan waktu enam tahun untuk mengambil alih kekuasaan di Tiongkok. Setelah berhasil, ia mengganti namanya menjadi kaisar Han Gaozu. Sejak masa itulah, Tiongkok memasuki era berdirinya Dinasti Han yang merupakan salah satu dinasti yang paling bersejarah.
Dinasti Han berdiri dengan mewarisi daratan Tiongkok dengan segala kondisinya yang sangat kacau balau akibat keruntuhan Dinasti Qin. Hal itu disebabkan karena Dinasti Qin diakhiri dengan banyaknya pemberontakan yang terjadi pada saat itu. Dengan begitu, tugas pertama yang harus dilakukan pada saat permulaan Dinasti Han adalah mempersatukan kembali propinsi/negara yang memberontak ke dalam naungan pemerintah pusat serta melakukan pemulihan terhadap setiap sektor kehidupan. Dan tugas ini pertama kali diemban oleh seorang yang dulunya adalah petani, bernama Liu Bang.
Pergantian Dinasti Qin menjadi Dinasti Han bukan hanya sekedar pergantian kaisar. Bukan juga sekedar perkembangan atau pencapaian kejayaan yang luar biasa secara fisik. Namun, di balik itu semua ada sebuah arus pemikiran besar yang tengah mengalami masa kejayaannya. Dan arus pemikiran inilah yang sebenarnya mempengaruhi dan mendasari hampir seluruh aspek kehidupan semasa Dinasti Han. Arus pemikiran ini dikenal dengan nama Konfusianisme. Dinasti Han inilah yang merupakan titik perubahan ideologi dari Legalisme yang dijunjung tinggi semasa Dinasti Qin menjadi ideologi Konfusianisme.
Dinasti Han terbagi menjadi Dinasti Han Barat dan Dinasti Han Timur. Zaman Dinasti Han Barat dimulai dari tahun 206 Sebelum Masehi dan berakhir pada tahun 8 Masehi. Liu Bang, yang lazim disebut sebagai Han Gaozu adalah kaisar pertama Dinasti Han dengan Chang’an sebagai ibukotanya. Dinasti Han benar-benar terdiri dari dua dinasti yang terpisah. Hal ini dianggap sebagai salah satu dinasti oleh Cina karena kedua dinasti yang didirikan oleh seorang anggota dinasti Han mantan yang menyatakan bahwa dia telah memulihkan Dinasti Han. Dinasti Han asli digulingkan ketika keluarga kaya mendapatkan kekuasaan lebih dari kaisar. Keluarga menjadi sekutu melalui perkawinan dan bertanggung jawab untuk pemilihan pejabat. Janda Kaisar andi Y ü berhasil menempatkan semua kerabatnya dalam pemerintahan dan memerintah di tempat anaknya. keponakan nya, Mang Wang, akhirnya mendeklarasikan dirinya kaisar dari sebuah dinasti baru, Xin (baru). naik-Nya sebagai kaisar tidak biasa karena ia mendapatkan banyak dukungan publik dan mulai upacara di mana cap batu berharga diserahkan ke kaisar. Sejak saat itu, siapa pun yang diadakan segel adalah kaisar resmi. Wang digulingkan oleh masyarakat rahasia yang dikenal sebagai petani Alis Merah (mereka dicat merah alis mereka). Keturunan Han akhirnya bergabung dalam pemberontakan, dan itu adalah tentara bangsawan ini, di bawah pimpinan Liu Xiu, yang membunuh Wang pada tahun 22. Pertempuran berlanjut hingga tahun 25 ketika Liu menjadi kaisar. Sebagai kaisar Liu disebut Kaisar Guang Wudi. Jutaan orang tewas dalam pertempuran, meninggalkan tanah belakang untuk petani, dan sering kebebasan dari hutang sebagai penyandang dana meninggal.
Dinasti Han kedua yang lebih sukses lagi dengan kebijakan luar negerinya. Sebagian dari keberhasilan ini adalah karena keberuntungan bukan daripada prestasi besar. Orang Hun, sebelumnya salah satu musuh paling berbahaya dari Cina, dikalahkan oleh Xiangbei dan Wuhuan kerajaan. Setengah dari Hun pindah selatan dan menjadi bagian dari Cina. Orang Hun tampak berusaha untuk menyatukan kembali dan membentuk sebuah kerajaan besar terdiri dari Turkistan. Jadi, di 73, orang Cina mulai kampanye di Turkistan. Seluruh Turkistan – yang akan memastikan monopoli perdagangan meskipun Kaisar Mingdi meninggal dan Changdi menjadi kaisar – dengan cepat ditaklukkan. Kaisar disukai kebijakan isolasionis sehingga banyak dari apa yang diperoleh di Turkistan sekarang hilang,. Banchao wakil komandan yang memimpin invasi, tinggal di Turkistan untuk mencoba dan terus ke apa yang menang. Akhirnya, di 89, seorang kaisar baru berkuasa dengan minat baru dalam memegang Turkistan. Meskipun sukses militer, ekonomi dan politik perjuangan muncul di Cina. Internal perjuangan untuk kekuasaan dikenakan pajak para petani sampai di 184, saat terjadi pemberontakan petani lain. Gerakan ini diawali oleh Yellow turban dan berfungsi untuk menyatukan faksi-faksi yang sebelumnya telah bertempur karena mereka perlu bersatu untuk mengalahkan Serban Kuning. Meskipun Cina telah menaklukkan mereka, negara tidak kembali ke negara bersatu. Sebaliknya, muncul tiga kerajaan dan Dinasti Han berakhir.

Kaisar Han Wendi

Selama 7 tahun berkuasanya, Kaisar Han Gaozu meningkatkan penguasaan sentralisasi pemerintah dan menjalankan serentetan kebijakan politik “pemberdayaan rakyat” sehingga kekuasaan negara menjadi lebih kokoh. Pada tahun 159 Sebelum Masehi, Kaisar Han Gaozu meninggal dan Kaisar Huidi naik takhta. Namun pada saat itu, kekuasaan sebenarnya dipegang oleh Permaisuri Lu Zhi yang berturut-turut berkuasa selama 16 tahun. Dengan demikian, ia juga menjadi salah seorang penguasa wanita yang jumlahnya tidak banyak dalam sejarah Tiongkok. Tahun 183 Sebelum Masehi, Kaisar Wendi naik takhta. Selama berkuasanya Kaisar Wendi dan kemudian Kaisar Jingdi, yaitu putranya antara tahun 156 Sebelum Masehi dan tahun 143 Sebelum Masehi mereka terus menjalankan kebijakan “pemberdayaan rakyat”, meringankan pajak yang sangat membebani rakyat sehingga ekonomi Imperium Dinasti Han berkembang makmur. Masa itu dipuji oleh sejarawan sebagai Zaman Wendi dan Jingdi Yang Ulung.
Melalui pemulihan ekonomi pada Zaman Wendi dan Jingdi Yang Ulung itu, kekuatan negara Dinasti Han berangsur-angsur menjadi perkasa. Pada tahun 141 sebelum Masehi, Kaisar Wudi naik takhta. Selama berkuasanya, ia mengirim Jenderal Wei Qing dan Jenderal Huo Qubing memimpin pasukan menangkis serangan pasukan Xiongnu, suku penggembala di bagian utara Tiongkok. Keberhasilan militer kedua jenderal itu memperluas lingkungan penguasaan Kaisar Wudi pada masa usia lanjutnya menghentikan peperangan dan mengalihkan perhatiannya pada pengembangan pertanian sehingga ekonomi Dinasti Han Barat terus berkembang. Setelah itu, Kaisar Zhaodi naik takhta, kemudian terus berusaha mengembangkan ekonomi dan berkat upayanya itu, Dinasti Han memasuki masa emasnya.
Berkat pelaksanaan kebijakan “pemberdayaan rakyat” selama 38 tahun pada masa berkuasanya Kaisar Zhaodi dan Kaisar Xuandi, kekuatan negara Dinasti Han meningkat, namun bersamaan itu, kekuatan daerah juga meningkat pada waktu yang sama dan sangat mempengaruhi kekuasaan Imperium Dinasti Han. Pada tahun 8 Masehi, seorang bernama Wang Mang merebut kekuasaan dan mengubah nama negara menjadi Xin, berarti berakhirnya kekuasaan Dinasti Barat dalam sejarah.
Dinasti Han Barat adalah salah satu imperium paling kuat dalam sejarah Tiongkok. Selama berkuasanya Dinasti Han Barat, berkat pelaksanaan kebijakan “pemberdayaan rakyat” yang dimaksudkan untuk mengembangkan ekonomi, kehidupan rakyat stabil dan tenteram, ekonominya pun makmur. Dengan demikian pemerintahan Dinasti Han berjalan lancar dan stabil. Yang patut disebut ialah, Kaisar Wudi yang mulai berkuasa pada tahun 141 menerima usul Menteri Dong Zhongshu yang berisi “melarang segala aliran pikiran kecuali aliran Ru”. Sejak itu, Ajaran Ru menjadi teori penyelenggaraan negara yang selalu ditaati oleh berbagai dinasti pada hari kemudian.
Dinasti Han Timur yang didirikan Liu Xiu, yaitu Kaisar Guangwu dimulai dari tahun 25 Masehi dan berakhir pada tahun 220 Masehi. Pada tahun 25, Liu Xiu mengalahkan Wang Mang yang menggulingkan kekuasaan Han Barat untuk merebut kembali kekuasaan dan tetap menerapkan Han sebagai nama negara, tapi memindahkan ibukota dari Chang’an ke Luoyang Tiongkok Tengah. Pada tahun kedua berkuasanya, Kaisar Guangwu memerintahkan mengadakan reformasi terhadap kebijakan lama yang dijalankan oleh Wang Mang dengan membenahi tata tertib politik dan menciptakan enam jabatan Shangshu untuk menangani urusan negara. Sampai pada pertengahan abad kesatu Masehi, Dinasti Han Timur berangsur-angsur pulih kembali dan menjadi makmur seperti masa lalu berkat penyelenggaraan pemerintahan oleh tiga kaisar berturut-turut. Masa itu dipuji orang kemudian sebagai “pemulihan Kaisar Guangwu”.

Sumber : Dari Berbagai Sumber 🙂